Beautiful Things Don’t Ask for Attention

Ibu adalah cinta pertama bagi seorang anak laki-laki, tempat mereka bergelayut manja dan menceritakan segala macam peristiwa yang mereka lalui. Ibu adalah teman curhat paling menyenangkan. Dia selalu menunggu cerita apa yang akan dibawa pulang oleh anak laki-laki nya. Dia kemudian akan mendengarkan dengan seksama. Mengangguk-angguk paham. Lalu segera menyambung cerita itu dengan pengalamannya sendiri, agar anak laki-laki nya mampu mengambil pelajaran tanpa merasa digurui.

Sedangkan Bapak, dia adalah pahlawan pertama bagi seorang anak laki-laki. Meskipun dia seorang pahlawan, bukan berarti dia tidak mau mendengarkan cerita, atau menganggap curhatan anak-anaknya sebagai simbol kecengengan. Bapak akan membimbing anak laki-laki nya untuk kelak menjadi pahlawan yang minimal sehebat dirinya.

Aku anak laki-laki Bapak semata wayang. Suatu hari dengan terpaksa harus melibatkan Bapak kepada urusan yang, dalam usiaku, aku sebut rumit.

“Lelaki akan selalu menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Lelaki tidak akan memulai apapun yang tidak mampu mereka selesaikan.” Bapak mulai memberikan tanggapan setelah aku bercerita singkat kepada beliau.

“Pak.. Bukankah kita harus berusaha? Nantinya selesai atau tidak, kita tidak tahu kalau belum mencoba, kan?”

“Kamu benar.. Tapi Bapak yakin, pada situasi tertentu kamu sendiri bisa menilai bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kamu selesaikan. Maka, jangan pernah memulainya.”

Aku mengerutkan dahi.

Bapak sejenak meletakkan koran, kemudian memandang fokus kepadaku, “Interaksi yang tidak bisa kamu jaga kepada lawan jenis, hubungan dekat, godaan, sapaan, bahkan sekedar guyonan. Bagimu mungkin sepele. Tapi bagi perempuan interaksi sejenis itu bisa diartikan lebih dan dianggap sebagai permulaan yang, mereka harap, harus kamu selesaikan.”

“Tapi perempuan juga bisa kan, Pak, terkadang salah mengartikan hal-hal kecil yang lelaki lakukan..”

Aku membela diri.

“Bapak sudah mengambil peran dengan memintamu menahan diri. Semoga mereka juga mendapatkan pesan dari orang tua masing-masing untuk menjaga diri.”

Bapak menyeruput kopi luwaknya yang tinggal setengah, kemudian melanjutkan, “Kalaupun tidak, maka Bapak cuma mau meyakinkan, kamu ini anak laki-laki Bapak yang paling ngganteng dan soleh. Kamu sudah diciptakan menarik. Dan lelaki yang menarik tidak akan merendahkan dirinya dengan genit-genitan, atau iseng cari-cari perhatian. Beautiful things don’t ask for attention.”

Begitulah Bapak, emang pinter kalau urusan memuji orang lain. Eh, tapi sebentar..

“Ya iyaalah paling ganteng, lha wong yang laki-laki cuma satu nggak ada yang lain.”

Aku tersenyum kecut. Bapak tertawa puas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: